Uang dalam Islam

Oleh : Abdul Hadi Ilman

Pada dasarnya, Islam tidak memiliki mata uang sendiri pada zaman Rasulullah. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah menetapkan penggunaan uang yang berasal dari emas dan perak dari negara lain. Dinar emas berasal dari Romawi (Dinar Heraclius), sedangkan dirham perak berasal dari Persia (Dirham Baghli). Artinya Rasulullah mengakui dan memberlakukan mata uang tersebut dalam transaksi perekonomian umat Islam. Hal ini dilakukan oleh beliau tidak lepas dari siasat politik, mengingat posisi umat Islam waktu itu masih lemah dan berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Romawi dan Persia baik dari segi politik maupun ekonomi. Dan secara geografis, wilayah Arab memang dikelilingi oleh dua kerajaan tersebut.

Uang Islam secara resmi dan penuh pertama kali diterbitkan dalam bentuk dinar dan dirham Islam pada masa Khalifah Bani Umayah, Abdul Malik bin Marwan. Pada saat itu dinar dan dirham dicetak sesuai dengan timbangan yang telah ditentukan oleh Rasulullah. Sebelumnya Khalifah Umar pernah menerbitkan dirham, namun karena masih bercampur dengan unsur Persia maka tidak bisa disebut uang islam. Sampai saat ini, dinar dan dirham menjadi identik dengan Islam, padahal yang pertama menggunakan bukanlah umat Islam.

Secara umum, ada perbedaan pendapat dintara fuqaha tentang keharusan penggunaan dinar dan dirham oleh umat islam sebagai mata uang dalam perkonomian. Pendapat pertama menyatakan bahwa uang adalah bentuk penciptaan dan hanya terbatas pada dinar dan dirham. Artinya, tidak ada bentuk mata uang lain yang boleh dipergunakan selain dinar dan dirham, termasuk juga uang kertas yang beredar saat ini. Karena menurut mereka Allah telah menciptakan emas dan perak sebagai tolok ukur nilai. Sebagai buktinya adalah banyaknya istilah emas dan perak yang disebut dalam Al-Qur’an. Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Ghazali, Ibnu Qudamah, dan Al-Maqrizi. Dikatakan oleh Maqrizi, “Sesungguhnya uang yang menjadi harga barang-barang yang dijual dan nilai pekerjaan adalah hanya emas dan perak saja. Tidak diketahui dalam riwayat yang shahih maupun yang lemah dari umat manapun dan kelompok manusia manapun, bahwa mereka dalam masa lalu dan masa kontemporernya selalu menggunakan uang selain keduanya.”

Pendapat kedua menyatakan bahwa uang adalah masalah terminologi. Maka segala sesuatu yang secara terminologi manusia dapat diterima dan diakui oleh mereka sebagai tolok ukur nilai, maka bisa disebut sebagai uang. Pandangan ini lebih dekat dengan definisi uang yang ada saat ini. Pendapat ini juga menyepakati substansi dari pernyataan Umar r.a sebagai berikut: “Aku ingin menjadikan dirham dari kulit unta” Lalu dikatakan kepadanya, “Jika demikian, unta akan habis” maka dia manahan diri. Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin dapat uang dari materi apapun dan dengan bentuk apapun selama dapat merealisasikan kemaslahatan, dan tidak menyalahi aturan syariah. Pendapat kedua ini didukung oleh Imam Malik, Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Hazm. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa uang kembali pada terminologi manusia bahwa sesuatu itu adalah uang, dan ia beragam bentuknya sesuai keragaman tradisi dan adat istiadat manusia; dan beliau menafikan adanya uang yang pasti dengan hukum sya’i atau hukum alami (penciptaan). Dalam hal ini uang kertas yang banyak beredar saat ini secara fiqih dapat dinyatakan sebagai uang selama dalam terminologi manusia masih disebut uang.

Perbedaan pendapat ini tidak hanya terkait lahiriah dan fisik dari uang itu sendiri, tapi lebih jauh adalah pada hal-hal yang substansial (misal:posisi zakat dan riba) . Hal ini mengingat bahwa uang memiliki peranan yang sangat penting; pelayanan besar yang diberikan oleh uang dalam perkonomian, hubungan yang kuat antara uang dan perekonomian, pengaruh uang yang sangat besar, dan uang merupakan salah satu faktor kekuasaan dan kemandirian ekonomi.

Pendapat kedua merupakan pendapat yang lebih kuat, sehingga para ekonom sepakat bahwa uang adalah masalah terminologi. Mereka berpendapat bahwa uang itu berarti segala sesuatu yang beredar penggunaanya dab terjadi penerimaannya. Dalam hal ini, benda apapun boleh dijadikan sebagai mata uang, namun harus ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

  • Islam melarang setiap hal yang berdampak pada bertambahnya gejolak dalam daya beli uang, dan ketidakstabilan nilainya yang hakiki. Contohnya: larangan perdagangan uang (karena uang adalah alat perdagangan, bukan yang diperdagangkan), dan pengharaman penimbunan uang. Inflasi adalah salah satu contoh menurunnya daya beli uang terhadap barang dan hal ini pernah terjadi pada masa Umar r.a dimana pada saat itu mata uang yang digunakan adalah dinar dan dirham. Artinya tidak ada jaminan bahwa dinar dan dirham akan mencegah terjadinya inflasi. Semua jenis bahan mata uang (emas, perak ataupun kertas) mempunyai potensi menimbulkan inflasi. Tugas negara adalah menjaga kestabilan nilai mata uang tersebut.
  • Apa yang disebut dengan uang harus diterima dan dipercaya oleh kebanyakan manusia agar fungsi dan nilalinya dapat terlindungi. Serta harus diatur dan diterbitkan oleh negara.
  • Dalam sistem moneter, ada tiga unsur pokok yang harus terpenuhi, yaitu dasar moneter, kesatuan hitungan (kesatuan mata uang), dan sarana tukar-menukar. Jika merujuk pada sistem keuangan di Arab Saudi, yang menjadi dasarnya adalah emas dan satuannya adalah riyal, sedangkan sarananya adalah kertas-kertas yang dikeluarkan oleh perbankan.

Menyikapi penggunaan uang kertas yang beredar saat ini, secara lahiriah bahan dan bentuk bisa diterima sebagai uang sesuai dengan pendapat kedua di atas. Hanya saja penggunaannya saat ini banyak menimbulkan masalah dan krisis keuangan di banyak negara. Negara kuat bisa seenaknya mencetak mata uangnya dan melemahkan mata uang negara lain, karena tidak ada beban dan murahnya nilai kertas itu sendiri, hal ini karena tidak ada dasar moneter yang kuat. Sehingga muncul, wacana untuk kembali pada penggunaan emas dan perak (dinar dan dirham).

Pada akhirnya, penggunaan uang bisa dilakukan sekreatif mungkin dan bahanya bisa menggunakan apapun mengkuti perkembangan zaman dan adat istiadat manusia, yang penting adalah dapat merealisasikan kemaslahatan, dan tidak menyalahi aturan syariah.

Sumber :

“Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khattab”, DR, Jaribah bin Ahmad Al-Haritsi

“Ekonomi Makro Islami”, Adiwarman A. Karim

Advertisements

Report “Kunjungan BMT KEI FSI FEUI”

Bismillahirrahmanirrahim

Pada hari Senin tanggal 8 September 2008, KEI (Kajian Ekonomi Islam) FSI FEUI mengadakan kunjungan ke sebuah BMT (Baitul Mal wa Tamwil) di daerah Pasar Minggu. Kunjungan kali ini selain diikuti oleh anggota KEI, juga diikuti oleh Kadiv Bidang Ilmi serta anggota KiAMI. Kunjungan kali ini adalah kerjasama antara departemen R dan D KEI dengan departemen HubLu KEI, dimana tujuan dari kunjungan ini adalah untuk menimba ilmu dari BMT yang sudah lama berdiri, sebagai salah satu bagian dari rencana FSI FEUI untuk mendirikan BMT sebagai implementasi pembelajaran tentang ekonomi Islam dalam kehidupan riil masyarakat.

BMT yang kami kunjungi adalah BMT Masjid AL-AZHAR, yang berlokasi di komplek Masjid Al-Azhar, Jl. Mujair 1 RT. 003/09 No. 24A Pasar Minggu Jakarta Selatan 12520. Disana kami disambut baik oleh segenap jajaran pengurus dan transfer ilmu diantara kami pun dimulai.

BMT Masjid Al-Azhar adalah merupakan sebuah lembaga keuangan mikro syariahyang berfungsi sebagai sarana pemberdayaan dan pengembangan ekonomi ummat dengan prinsip operasional berdasarkan syariah Islam. BMT masjid Al-Azhar berdiri sejak tahun 1995 dengan badan hukum koperasi syariah No. 357/BH/KDK.9.4/IX/1999 dengan konsentrasi usaha pada jenis simpanan dan pembiayaan.

Bentuk koperasi syariah diambil karena bentuk usaha yang tepat bagi BMT adalah koperasi. Bentuk perbankan tidak mungkin diambil karena memang keuangan yang dikelola masih kecil dan bentuk ini pun masih beresiko di cap sebagai bank gelap. Karena memiliki bentuk usaha koperasi berlandaskan syariah tentu saja BMT Masjid Al-Azhar memiliki anggota. Pemodal (yang berjumlah 21) disebut anggota dan para nasabah (baik yang berasal dari penyimpan dana maupun peminjam) disebut sebagai anggota luar biasa. Yang akan mendapat bagian SHU di akhir tahun adalah anggota ini, sedangkan anggota luar biasa mendapat nisbah bagi hasil.

Mengenai proses perizinan BMT, sebenarnya BMT dapat beroperasi tanpa perizinan sebelumnya, baru kemudian setelah sudah mapan dapat mengajukan perizinan ke kementrian koperasi atau bentuk usaha lain yang dipilih. BMT ini dibentuk pada tahun 1995 dan baru diajukan serta memiliki bentuk resmi koperasi pada tahun 1999.

Mengenai modal awal saat pendirian tergantung dari apakah kita akan menggaji pegawai kita atau tidak. Karena saat awal pendirian mungkin belum terlihat keuntungannya. Oleh karena itu, BMT Al-Azhar saat awal didirikan dibantu oleh tenaga sukarelawan. Selain itu perlu dipikirkan pula dan operasionalnya, baik dana peralatan dan bangunan serta biaya transportasi. Biaya transportasi adalah biaya yang cukup signifikan bagi BMT. Hal ini karena BMT harus melakukan banyak survey, penarikan pembayaran baik harian maupun bulanan, serta kegiatan lainnya.

Mengenai peralata, hal yang perlu dimiliki adalah computer serta system. Pada saat nasabah masih sedikit mungkin masih bisa dilaksanakan secara manual, namun saat nasabah semakin banyak perlu di miliki system computer yang lebih mampu mengelolanya. Sistem computer tersebut memang khusus untu BMT, misalnya Piranti, Tibook, dan Highco. Sistem tersebut adalah berharga sekitar RP 20 juta dan bersifat multi system. Namun apabila ingin lebih murah dapat membeli yang single system dan berharga sekitar Rp 5 juta.

Untuk pendirian awal BMT, pegawai yang diperlukan minimal 3 serta merangkap berbagai pekerjaan. Pekerjaan yang paling utama adalah pimpinan, pembukuan (administrasi), dan lapangan. Pekerjaan lapangan tersebut berupa survey (survey kelayakan pinjaman), marketing (pemasaran simpanan maupun pinjaman yang diberikan), collector (mengumpulkan pembayaran), dan remedial (mengumpulkan pembayaran apabila belum dapat tertagih oleh collector).

Menegenai target pasar, dapat dilihat dari segi penyimpan dan peminjam. Dari segi penyimpan adalah yang cukup sulit, karena membutuhkan kepercayaan dari nasabah. Nasabah berasal dari anggota pengajian yang membuka simpanan, anggota masyarakat lain, dan para peminjam yang disyaratkan harus membuka dulu tabungan sebelum meminjam. Biasanya setelah mereka membuka rekening, mereka akan semakin berminat untuk terus menggunakan jasa BMT.

Sedangkan dari segi peminjam cukup mudah dilakukan karena tentu saja karena peminat yang banyak. Peminjam berasal dari rumahan dan pasar, dan dibedakan menjadi bankable dan nonbankable. Untuk yang nonbankable ini dibutuhkan feeling yang tepat untuk memilih yang benar-benar berkomitmen serta ada standarisasinya pula untuk setiap peminjam. Dan khusu untuk peminjam pasar karena resiko yang lebih besar maka penarikan pembayaran dilakukan secara harian.

Prose marketing yang dilakukan lebih menekankan pada kepercayaan nasabah dan berita dari mulut ke mulut. Hal ini lebih efektif dibanding menggunakan iklan yang tentu saja sangat costly.

Proses pembiayaan dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama-tama peminjam mengajukan pinjaman, pengajuan ini bukan berbentuk proposal tapi secarik dokumen biasa agar mudah diakses oleh masyarakat. Setelah pengajuan masuk, kemudian dilakukan survey dengan standarisasi yang telah ditentukan sebelumnya. Survey dapat selesai satandar 3 hari. Kemudian setelah dinyatakan layak, maka diajukan ke komite untuk disetujui proses pembiayaannya.

Produk yang disediakan BMT Al-Azhar adalah :

Produk Simpanan:

1. Simpanan Amanah

2. Simpanan Pendidikan

3. Simpanan hari raya

4. Simpanan walimah

5. Simpanan haji dan umrah

6. Simpanan berjangka

Produk Pembiayaan :

1. Pembiayaan mudharabah

2. Pembiayaan murabahah

3. Pembiayaan musyarakah

4. Pembiayaan ijarah dan ijarah multi jasa

5. Pembiayaan Al-Qardhul Hasan

6. Dan pembiayaan lain yang sesuai prinsip syariah

Mengenai pembiayaan, pembiayaan yang paling kecil adalah mudharabah adalah yang paling kecil karena costly dalam control dan hasilnyapun kecil. Sedangkan yang paling besar dari murabahah. Profit dari BMT sebagian besar dari profit sebagai lembaga intermediasi keuangan, yaitu yang menyalurkan dana surplus dari penyimpan kepada peminjam.

Selain itu, BMT Al-Azhar pun sering mendapat tawaran dan dari bank. Namun lebih sering di tolak karena dana tersebut lebih costly, serta BMT lebih menekankan pada kefektifan dana dari nasabah serta penarikan yang menguntungkan dari peminjam. Sedangkan mengenai margin atau spread yang dikenakan pada peminjam adalah berdasarkan biaya operasional bank bukan mengacu pada bunga bank atau hal lainnya. Misalnya bung bank 2% namun biaya operasional 1% kita ikuti 1% tersebut karena BMT pun sudah untung.

Selain itu para penyimpan dana lebih tertarik menyimpan di BMT karena bagi hasilnya yang cukup tinggi dan lebih besar dari bunga banka atau bunga deposito. Intinya yang harus kita perkuat adalah kinerja kita, maka nasabah akan semakin percaya dan lambat laun nasabah akan semakin besar.

BMT pun melayani penerimaan dan penyaluran zakat. Ada yang disalurkan dalam bentuk konsumtif dan produktif. Bentuk yang produktif disalurkan dalam bentuk Qardhul-Hasan, yaitu pinjaman usaha tanpa margin. Hal ini untuk member akses fakir miskin untuk keluar dari kemiskinannya. Namun mengenai status Qardhul-Hasan atau write off tidak pernah diberitahukan ke peminjam tapi sebagai rahasia BMT, hal ini agar mereka semangat dalm membayarnya.

Hal-hal diataslah yang kami dapatkan dari kunjungan ini. Semoga kunjungan ini memberikan manfaat yang besar bagi perkembangan ekonomi syariah. Dan kita berharap semoga BMT FSI FEUI segera terbentuk. Amin

Dimas Rachmat G

R and D KEI FSI FEUI

8 September 2008

Mengapa Harus Bank Syariah?

Oleh: Chusnul Bakhriansyah (Wakil Ketua Divisi KEI)

Tulisan ini juga dimuat di media FSI Berdzikir edisi Juli

Dalam pengertiannya, Bank adalah sebuah lembaga yang memiliki tiga fungsi utama, yaitu sebagai tempat menyimpan uang, tempat meminjam uang, dan tempat pelayanan jasa keuangan. Sedangkan, Bank Syariah adalah sebuah lembaga yang memiliki tiga peran tersebut akan tetapi mengindahkan aturan-aturan dan hukum-hukum Allah yang diberlakukan untuk manusia. Jadi, jika kita melihat secara teknis tidak terlalu berbeda antara bank konvensional dengan bank syariah. Akan tetapi, jika kita melihat lebih dalam lagi mengenai bank syariah akan terlihat jelas bahwa terdapat perbedaan yang mendasar yang membuat bank syariah memberikan dampak yang lebih baik bagi umat Islam pada khususnya dan seluruh alam pada umumnya.

Yang pertama marilah kita mengkaji tentang perbedaan struktur organisasi antara bank konvensional dengan bank syariah. Bank adalah sebuah organisasi yang berorientasikan profit, tidak terkecuali bank syariah. Dalam struktur organisasi bank konvensional, terdapat rapat umum pemegang saham sebagai keputusan tertinggi, dewan komisaris, dewan direksi, dan para pegawai. Dalam struktur ini, segala kegiatan operasional yang dilakukan oleh dewan direksi diawasi oleh dewan komisaris sebagai perwakilan dari para pemegang saham. Jadi, pengawasan kegiatan operasional bank diawasi hanya oleh dewan direksi. Tidak terlalu berbeda dengan bank konventional, struktur organisasi bank syariah juga memuat hal diatas. Akan tetapi, yang harus digaris bawahi disini selain memuat hal yang sama dengan bank konventioal, bank syariah memiliki dewan pengawas syariah, yang kedudukannya sejajar dengan dewan komisaris. Jadi, pengawasan kegiatan operasional perusahaan menjadi lebih baik karena pengawasan dilakukan oleh dua pengawas. Seperti kata pepatah dua lebih baik daripada satu.

Sekarang, mari kita membahas perbedaan dalam segi pembiayaan. Seperti yang kita ketahui semua, mengajukan permintaan pembiayaan pada bank konvensional sangat mudah pada era sekarang ini. Kita hanya tinggal mengajukan pinjaman, lalu menyelesaikan syarat-syarat yang diharuskan. Lalu, bagaimana dengan bank syariah? Pada bank syariah, syarat-syarat yang ditetapkan hampir sama dengan yang dimiliki oleh bank konvensional. Akan tetapi, bank syariah lebih unggul dalam satu hal. Bank syariah tidak akan pernah mengucurkan dana pinjamannya kepada bisnis yang dapat membawa kemaslahatan seperti bisnis kasino, pembuatan bir, rokok, dan lainnya. Jadi, sekali lagi bank syariah sudah selangkah lebih maju karena harta yang kita simpan tidak disalurkan untuk hal maksiat dan negara akan semakin maju karena pembiayaan yang diberikan akan digunakan untuk hal yang membangun bukan menghancurkan moral bangsa.

Lalu, bagaimana dengan return yang diterima dari investasi yang telah dilakukan pada bank syariah? Pada bank syariah, return yang akan diterima adalah bagi hasil (profit sharing) dari keuntungan yang didapatkan bank. Maksudnya adalah keuntungan yang didapatkan oleh bank melalui investasi yang mereka lakukan menggunakan dana yang terdapat pada bank tersebut dibagi kepada nasabahnya sesuai dengan jumlah investasi mereka pada bank tersebut dan kesepakatan awal persentase pembagian keuntungan. Berbeda dengan system return yang diberikan oleh bank konvensional yaitu dengan memberikan bunga. Perbedaan ini seperti terlihat bahwa nasabah akan rugi jika menyimpan pada bank syariah dibandingkan jika menyimpan uangnya pada bank konvensional disebabkan return yang pasti dari bank konvensional. Akan tetapi, jika kita menilik lebih jauh lagi, sebenarnya sistem yang digunakan pada bank syariah memberikan pengetahuan kepada kita mengenai bagaimana sebenarnya kondisi bank tempat menyimpan uang. Mengapa? Karena dengan pengembalian yang semakin besar menunjukkan bahwa semakin baik kinerja bank tersebut dan semakin kecil pengembalian membuat kita dapat berhati-hati karena kita mengetahui bahwa kinerja bank tersebut menurun, sehingga itu dapat membuat kita untuk berjaga-jaga mengenai uang yang berada di bank tersebut. Sedangkan, nasabah tidak akan pernah mengetahui lebih dahulu bagaimana kinerja bank tersebut, karena return yang diterima selalu konstan. Ini membuat para nasabah tidak bisa berjaga-jaga mengenai keselamatan uang yang mereka simpan di bank konvensional. Ini membuktikan bahwa bank syariah lebih transparan mengenai performa kegiatan operasionalnya kepada nasabah dinadingkan dengan bank konvensional yang membuat nasabah dapat berhati-hati lebih awal. Inilah salah satu penyebab mengapa pada tahun 1998, bank syariah tidak termasuk bank yang dilikuidasi dan tetap bertahan sampai sekarang.

Yang terakhir setelah kita mengetahui sistem return yang diberikan, marilah kita mencoba menghitung besarnya pengembalian dari bank syariah dan bank konvensional. Karena pada bank kovensional tolok ukur pengembalian melalui bunga, maka yang menjadi perhatian kita adalah berapa persentase bunga yang diberikan oleh bank dan jumlah uang yang disimpan. Sedangkan, pada bank syariah karena yang menjadi tolok ukur pengembalian adalah bagi hasil, maka yang menjadi perhatian adalah persentase pembagian bagi hasil, jumlah uang yang disimpan, jumlah uang yang diinvestasikan oleh bank, dan jumlah keuntungan yang diterima oleh bank.

Disini terlihat bahwa semakin baik kinerja bank syariah maka akan semakin besar jumlah bagi hasil yang akan diterima oleh nasabah.

Jadi, mengapa harus memilih bank syariah? Sekarang seharusnya kita semakin melirik bank syariah karena lebih memiliki pengawasan yang ketat, pembiayaannya hanya kepada bisnis yang membangun moral bangsa, dan sistem return yang dapat menjadi early warning bagi para nasabah.
Sumber: Modul Kajian Ekonomi Islam FSI FEUI

Poster

Basic Training Ekonomi Syariah

Basic Training Ekonomi Syariah

Islam merupakan Dien yang sempurna yang mengatur seluruh segi kehidupan. Islam tak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Khalik ( ibadah) namun juga hubungan manusia dengan sesamanya (muamalah).Islam merupakan ideologi yang sempurna hal ini terbukti dari aturan-aturan yang terpancar dalam berbagai bidang kehidupan seperti ekonomi, social, politik ,hukum dsb.

Ideologi Islam, yang salah satu pilar konsepsinya adalah tentang pengaturan ekonomi, sudah sangat layak untuk disebut sebagai sebuah sistem ekonomi yang siap untuk menghadapi sistem ekonomi kapitalisme serta menjawab seluruh permasalahan ekonomi kontemporer. Karena sesungguhnya sistem ekonomi Islam mengatur  seluruh permasalahan ekonomi baik bersifat makro ekonomi maupun mikro ekonomi.

Atas dasar pemikiran tersebut Bidang Keilmuan Forum Studi Islam Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia bermaksud menggelar acara Basic Training Ekonomi Syariah guna mensyiarkan ekonomi Islam sebagai pilar ideologi Islam.

  • Tanggal : 13-14 Juni 2008 Pukul 09.00-15.30
  • Tempat : Ruang Tritura Gedung B FEUI

Pembicara :

  • Dhaniel Ilyas (Sejarah Ekonomi Islam)
  • Muhammad Ishak (Fiqh Muamalah)
  • Handi Risza (Mikro Ekonomi Islami)
  • Ardhi Ridwansyah (Makro Ekonomi Islam)

Acara ini akan dibawakan secara lecturing dan talkshow dengan varisasi kegiatan berupa Focus Group Discussion.

NB : WAJIB BAGI SELURUH PENGURUS FSI FEUI

Coming Soon . . .

Beberapa agenda terdekat yang akan dilakukan oleh KEI antara lain :

  1. Simposium Nasional FoSSEI di Riau Pekanbaru pada tanggal 12, 13, dan 14 Mei 2008. Insya Allah dari KEI akan mengirimkan salah satu pengurusnya sebagai delegasi KEI, yaitu Predi Muliansyah. Simnas ini akan membahas hasil penelitian dari masing FoSSEI Regional seluruh Indonesia tentang perkembangan ekonomi syariah secara umum. Untk kemudian dijadikan pertimbangan dalam menyusun rekomendasi kepada pemerintah. info lebih lengkapnya klik disini.
  2. Basic Training (tanggal menyusul). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pada pengurus KEI terhadap materi-materi dasar ekonomi syariah. Sehingga penyelenggaraan kajian nantinya dapat berjalan dengan lancara tanpa ada hambatan perbedaan pemahaman

Congratulations

Segenap pengurus aktif KEI mengucapkan selamat atas terpilihnya nama-nama di bawah ini menjadi pengurus KEI 2008 yang baru sebagai tambahan SDM yang lalu.

  1. Adhi Rachman Prana, IE 2007
  2. Ammar Maarif, EMA 2006
  3. Predi Muliansyah, IE 2007
  4. Debby Faras Ayu, EAK 2006
  5. Astri Fujiastuti, IE 2007
  6. Rizkie Shantika Putrie, IE 2007
  7. Yanthi Andhita, EMA 2007

Semoga Allah memberikan kekuatan iman dan kesabaran dalam mengemban amanah baru ini . . . Amiiin